...sedang galau, eh nemu tulisan ini. Makasih ya Mbak Kika Dhersyputri, Ratu Galau Indonesia...hahaha..
***
Setelah era kejayaan TTN [teman tapi nggelibet] atau TTM [teman tapi mesum (??)], sekarang jamannya TTS yang membuat TTG. Apaan ? Teman tapi sayang yang potensial bertransformasi menjadi teman tapi galau.
Jika TTN atau TTM kental dengan nuansa pemenuhan kebutuhan hawa nafsu, maka TTS ini setingkat lebih tulus dan murni yaitu rasa sayang cenderung cinta.
Sama dengan TTS [teka-teki silang], teman tapi sayang ini menyimpan banyak pertanyaan mendatar dan menurun. Bahkan banyak pertanyaan yang dibiarkan kosong tanpa jawaban. Habis bagaimana, teka-tekinya tentang perasaan, tentang hati, ya sulit.
Sama seperti menang TTS, memenangkan sebuah teman tapi sayang juga sangat menyenangkan. Sebab,
-konon- pasangan paling ideal adalah orang yang bisa kita cintai dan bisa menjadi teman baik.
Elemen cinta ideal -katanya- ada 3, yaitu friendship, love, dan sex. Artinya; untuk jadi pasangan komplet, seseorang harus bisa memadukan persahabatan atau pertemanan, cinta, dan juga hasrat sex. Kalau hanya cinta dan sex, pasti cuma akan jadi pasangan peringkat bawah yang hubungannya cenderung tidak awet. Kalau hanya pertemanan dan sex, selamanya hanya akan menjadi teman tidur.
Nah, kasus TTS adalah perpaduan antara elemen pertemanan dan cinta, tanpa sex. Jadi apa ? ya jadi ruwet, jadi galau deh...
Mungkin, leluhur kita pencipta idiom 'tresno jalaran soko kulino' sebenarnya adalah para psikolog hebat, yang paham betul analisis psikologis tentang perasaan cinta yang ditimbulkan oleh kenyamanan dan kebiasaan.
Sebenarnya, teman adalah para calon kekasih ideal. Paling tidak dari tingkat kenyamanan dan kesamaan minat. Setidaknya, teman-teman kita adalah orang-orang yang kita pilih karena kita merasa mereka ini tidak bikin kita bete atau illfeel. Secara alami mereka sudah melalui serangkaian 'fit and proper test'.
Mungkin karena sering bersama dan terlalu akrab maka tumbuhlah benih-benih terlarang; cinta. Terlarang kalau tumbuhnya hanya sepihak, tapi kalau bertepuk kedua belah pihak ya namanya rejeki nomplok ! Pantang ditolak.
TTS ini -kata mereka yang sudah pernah mengalami, kalau aku sih amit2 jangan deh..- harus disikapi dengan hati-hati karena pertaruhannya cukup berat. Yakni; persahabatan yang konon bagai kepompong ulat sutra, saking berharganya.
Sekarang, coba cek ke diri masing-masing apakah anda terlibat pada sebuah kasus TTS dengan check list berikut ini:
- Apakah anda mulai mengusahakan untuk selalu bertemu dengan teman ini?
- Apakah menemuinya merupakan sebuah kebutuhan?
- Apakah anda lebih suka pergi berdua saja dengannya daripada beramai-ramai dengan teman-teman?
- Apakah apa yang dikatakannya penting dan jadi pertimbangan khusus?
- Apakah diam-diam anda merasa cemburu dan tidak suka kalau ia mulai bercerita tentang teman-teman perempuannya?
Kalau jawaban dari semua pertanyaan itu adalah; YA, selamat !! Anda sah menjadi korban TTS !
Lalu gimana dong? Karena sudah terlanjur, sudah terjadi kecelakaan hati mencintai teman sendiri, anda harus mengambil sikap.
Kalau pertemanan dan persahabatan adalah hal sangat penting dan tidak ada lagi teman seasyik dia di dunia, ya sudah...buang jauh-jauh saja rasanya. Mutilasi saja cinta yang mulai bersemi, buang sana ke laut. Tidak perlu diingat-ingat lagi, tidak perlu dirasa-rasa lagi. Tidak usah meriang kalau tidak di SMS atau di BBM seharian. Tidak usah cari-cari cara untuk ketemu, biasa aja nada jawabnya kalau ditelepon, tidak usah GRan dengan perhatiannya. Karena itu murni perhatian atas nama pertemanan dan persahabatan.
[bersambung...capek ngetik terus, dilanjut nanti ya...]
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar