Jumat, 13 Juli 2012
Janji Pemabuk
Alkisah, seorang pemabuk berjalan sempoyongan pulang ke rumah di malam hari. Di tengah jalan ia di cegat oleh dua orang perampok.
"Serahkan semua uangmu !", kata salah satu dari perampok itu. Si pemabuk meraba-raba kantong bajunya untuk mencari sisa-sisa uang yang barangkali masih ada. Dengan setengah sadar ia ingat bahwa ia masih punya sedikit uang. Tapi ia heran karena tangannya tak menemukan apa-apa.
"Kalau kau tidak menyerahkan uangmu, kau akan kami bunuh !", perampok kedua mengancam sambil menempelkan ujung pisaunya ke leher si pemabuk. Dengan gemetar si pemabuk menjawab, "Beri aku waktu sebentar". Perampok itu menarik kembali pisaunya.
Si pemabuk lalu berlutut di tanah, kedua telapak tangannya menengadah ke langit. Ia berdo'a dalam hati, "Tuhan, tolonglah aku. Jika Engkau selamatkan aku dari para perampok ini, aku berjanji tidak akan mabuk-mabukan lagi".
Begitu selesai berdo'a si pemabuk merasa ada sesuatu yang jatuh dari dalam bajunya. Ternyata sekeping uang perak. Menyadari bahwa ia sudah mendapatkan apa yang ia butuhkan, ia segera melanjutkan, "Tuhan, lupakan do'aku..."
---
Ini hanya sebuah anekdot. Mungkin kita sering menjumpainya dalam versi yang berbeda. Anekdot ini menyindir perilaku kita lewat kelakuan si pemabuk.
Pemabuk itu menganggap uang yang jatuh dari dalam bajunya bukan pemberian Tuhan atas do'anya, sehingga ia punya alasan untuk tetap mabuk-mabukan lagi.
Ini persis seperti kelakuan kita.
Kita begitu mudah berjanji, seringkali atas nama Tuhan, dan begitu mudah pula melupakannya. Saat dilantik memegang jabatan atau profesi kita bersumpah, saat menikah pun kita berjanji. Waktu berbisnis dengan orang lain kita juga berjanji.
Tapi betapa mudah kita melanggar janji yang sudah kita sepakati itu. Lebih buruk lagi, kita tidak pernah mau mengakui bahwa kita sudah melanggar janji.
Kita menganggap gaji yang kita terima atau kesetiaan pasangan itu sebagai uang koin yang jatuh begitu saja dari baju kita.
***
[copastdarisitus terkenal]
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar