Minggu, 29 Juli 2012

Lagi-Lagi Uang

...ini adalah curahan hati Mas Icul. Sangat menyentuh dan mengena...

---

Kehilangan kerabat, karena dipanggil menghadap Tuhan, pasti membuat kita sedih. Apalagi jika kerabat tadi mempunyai tempat yang spesial di hati kita, atau orang yang selama ini begitu baik pada kita.

Saya pernah merasakan kepedihan itu, kepedihan yang sayangnya kemudian berubah menjadi penyesalan. Saya sadar tak ada orang yang bisa mengelak dari takdirNya. Namun setidaknya, menurut saya, kerabat saya itu tidak akan meninggal di usia muda (35 tahun), alias hidup lebih lama jika dia sungguh-sungguh berniat melawan penyakitnya.

Penyakit saluran pernafasan yang dia derita sebenarnya hanya bisa menjadi parah jika dibiarkan menggerogoti dalam waktu lama. Jika pencegahan dilakukan sejak dini, sesuatu yang fatal bisa dihindari.

Sebagai sarjana ekonomi yang dikenal pintar saya yakin dia menyadari hal itu. Sayangnya, dia terlalu 'berhitung' terhadap biaya yang harus dikeluarkan kalau pengobatan rutin dilakukan. Padahal secara finansial dia tidak punya masalah.

Mengapa uang begitu disayang ? Kerabat saya pasti punya alasan sendiri.

Biaya yang dikeluarkan untuk membayar dokter spesialis dan membeli obat memang lebih mahal ketimbang mengunjungi klinik alternatif, dan tentu saja mengurangi tabungan. Tapi jika terlambat, bukankah uang tak lagi berarti ?

Uang bisa membeli obat, tapi tidak bisa membeli kesehatan
uang bisa mendatangkan teman, tapi tidak bisa membeli persahabatan
uang bisa membeli makanan, tapi tidak bisa membeli selera makan
uang bisa membayar pelayanan, tapi tidak bisa membeli kesetiaan
uang bisa membuat hari-hari kita begitu indah, tapi tidak bisa membeli kebahagiaan.

Ah, pikiran saya melayang jauh. Kalau saja kerabat saya itu tak mencintai uang lebih daripada dirinya sendiri, kesehatannya mungkin tak akan tergadaikan begitu cepat dan begitu mudah. Mungkin, karena panjang-pendeknya umur, Tuhan juga yang menentukan.

***


Tidak ada komentar: